Thursday, September 13, 2012

CEDERA TULANG BELAKANG




OLEH: LISA PERMITA SARI



  Definisi
      Cedera tulang belakang merupakan kelainan yang pada masa kini lebih banyak memberikan tantangan karena perubahan dan pola trauma serta kemajuan di bidang penatalaksanaannya. Cedera tulang belakang terjadi akibat patah tulang belakang dan terbanyak mengenai daerah servikal dan lumbal.
  Etiologi
         Cedera tulang belakang terjadi sebagai akibat :
      1.      jatuh dari ketinggian, misal pohon kelapa, kecelakaan ditempat kerja.
      2.      kecelakaan lalu lintas
      3.      kecelakaan olah raga
   cedera terjadi akibat hiperfleksi, hiperekstensi, kompresi atau rotasi tulang belakang. Didaerah torakal tidak banyak terjadi karena terlindung oleh struktur torak.
   Fraktur dapat berupa patah tulang sederhana, kompresi, kominutif, dan dislokasi, sedangkan kerusakan sumsum tulang belakang dapat berupa memar, kontusio, kerusakan melintang, laserasi dengan atau tanpa gangguan peredaran darah, atau perdarahan.
   Kelainan sekunder pada sumsum tulang belakang dapat disebabkan oleh hipoksemia dan iskemia. Iskemia disebabkan hipotensi, udem, atau kompresi.
   Perlu disadari bahwa kerusakan pada sumsum tulang belakang  merupakan kerusakan yang permanent karena tidak akan terjadi regenerasi dari jaringan saraf. Pada fase awal setelah trauma tidak dapat dipastikan apakah gangguan fungsi disebabkan oleh kerusakan sebenarnya dari jaringan saraf atau disebabkan oleh tekanan, memar atau udem.
  Manifestasi klinik
         Gambaran klinik bergantung pada lokasi dan besarnya kerusakan yang terjadi. Kerusakan melintang manifestasinya : hilangnya fungsi motorik maupun sensorik kaudal dari tempat kerusakan di sertai syok spinal. Syok spinal terjadi pada kerusakan mendadak sumsum tulang belakang karena hilangnya rangsang dari pusat. Ditandai dengan:

1.      Kelumpuhan flasid
2.      anesthesia
3.      arefleksi
4.      Hilangnya prespirasi
5.      Gangguan fungsi rectum dan kandung kemih
6.      Priapismus
7.      bradikardi dan hipotensi.
Setelah syok spinal pulih kembali, akan terdapat hiperrefleksi. Terlihat pula tanda gangguan fungsi autonom, berupa kulit kering karena tidak berkeringat dan hipotensi ortostatik serta gangguan kandung kemih dan gangguan defekasi.
         Sindrom sumsum belakang bagian depan menunjukkan kelumpuhan otot lurik dibawah tempat kerusakan disertai hilangnya rasa nyeri dan suhu pada kedua sisinya, sedangkan rasa raba dan posisi tidak terganggu.
         Cedera sumsum belakang sentral jarang ditemukan. Keadaan ini pada umumnya terjadi akibat cedera didaerah servikal dan disebabkan oleh hiperekstensi mendadak sehingga sumsum belakang terdesak dari dorsal oleh ligamentum flavum yang terlipat. Manifestasinya berupa tetraparese parsial. Gangguan pada ekstermitas bawah lebih ringan daripada ekstremitas atas, sedangkan daerah perianal tidak terganggu.
         Sindrom Brown-Sequard disebabkan oleh kerusakan separu lateral sumsum tulang belakang. Gejala klinik berupa gangguan motorik dan hilangnya rasa vibrasi dan posisi ipsilateral; di kontralateral terdapat gangguan rasa nyeri dan suhu.
         Kerusakan tulang belakang setinggi vertebra L1-L2 mengakibatkan anesthesia perianal, gangguan fungsi defekasi, miksi, impotensi serta hilangnya refleks anal dan refleks bulbokavernosa. Sindrom ini disebut sindrom konus medularis.
         Sindrom kauda equine disebabkan oleh kompresi pada radiks lumbo sacral setinggi ujung konus medularis dan menyebabkan kelumpuhan dan anesthesia di daerah lumbosakral yang mirip dengan sindrom konus medularis.
  Pencegahan dan penatalaksanaan
         Cedera tulang belakang bila tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan kematian atau kelainan yang menetap berupa kelumpuhan yang permanent. Kelumpuhan yang terjadi mempunyai dampak perawatan yang rumit dan memerlukan banyak peralatan. Ada dua tujuan utama penanganan cedera tulang belakang:
1.      Tercapainya tulang belakang yang stabil serta tidak nyeri
2.      Mencegah terjadinya jejas lintang sumsum tulang belakang sekunder.
      Tindakan yang dilakukan untuk penanganan cedera tulang belakang :
1.      Lakukan imobilisasi di tempat kejadian (dasar papan).
2.      Optimalisasi faal ABC: jalan nafas, pernafasan dan peredaran darah.
3.      Penanganan kelainan yang lebih urgen (pneumotorak??)
4.      Pemeriksaan neurologik untuk menentukan tempat lesi
5.      Pemeriksaan radiologik (kadang diperlukan)
6.      Tindak bedah (dekompresi, reposisi atau stabilisasi)
7.      Pencegahan penyulit
·         Ileus paralitik → sonde lambung
·         Penyulit kelumpuhan kandung kemih
·         Pneumoni
·         Dekubitus
  Diagnosa Keperawatan yang muncul
1.      Deficit self care
2.      Gangguan mobilitas fisik
3.      Gangguan body image
4.      Kerusakan integritas kulit b.d factor mekanik ( terjadi dekubitus)
5.      Resiko infeksi

     



DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8 volume 3, EGC, Jakarta
Haryani dan Siswandi, 2004, Nursing Diagnosis: A Guide To Planning Care, available on: www.Us.Elsevierhealth.com

Jong, W, 1997, Buku Ajar Ilmu Bedah, EGC Jakarta
McCloskey, 1996, Nursing Interventions Classification (NIC), Mosby, USA
Ralph & Rosenberg, 2003, Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2005-2006, Philadelphia USA






KONSEP KEBUTUHAN SENSORY PERSEPSI DAN KOGNITIF



Oleh: Lisa Permitasari, S.Kep, Ns


A.    PENGERTIAN
        Proses sensori dibagi menjadi dua komponen yakni resepsi dan persepsi. Sensori resepsi adalah proses menerima stimulus atau data, baik eksternal atau internal dari tubuh. Stimulus eksternal termasuk visual (penglihatan), auditori (pendengaran), olfactori (penghidu), tactile (perabaan) dan gustatori (pengecap). Stimulus gustatory juga termasuk ke dalam stimulus internal. Tipe lain dari stimulus internal adalah kinesthetic atau visceral. Kinesthetic merujuk kepada kesadaran terhadap posisi dan pergerakan bagian tubuh. Stereognosis adalah kesadaran terhadap ukuran objek, bentuk dan teksture. Visceral  merujuk kepada organ-organ besar dalam tubuh.
        Persepsi adalah kemampuan untuk merasakan, mengenal, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan stimuli sensori. Persepsi sering berhubungan dengan kognitif yaitu kemampuan intelektual untuk berpikir. Proses organisasi dan interpretasi seseorang tergantung pada tingkat fungsi intelektualnya. Kognitif termasuk elemen memori, penilaian dan orientasi.
        Persepsi sensori adalah proses sadar terhadap seleksi, organisasi dan mengartikan data dari indera ke informasi yang berarti atau kemampuan untuk menerima kesan sensori, melalui asosiasi kortikal, menghubungkan stimuli ke pengalaman masa lalu dan membentuk kesan dasar dari stimuli.. Macam-macam indera antara lain: olfaktori (penghidu), visual (penglihatan), taktil (perabaan), auditori (pendengaran), gustatori (pengecap), kinestetik (merasakan posisi tubuh) dan viseral (merasakan organ-organ dalam tubuh).
        Faktor yang mempengaruhi fungsi sensori diantaranya:
1.      Tahap perkembangan
2.      budaya
3.      stess
4.      medikasi dan kondisi sakit
5.      gaya hidup dan kepribadian


B.     NILAI-NILAI NORMAL
Resepsi dan persepsi sensori adalah dua komponen dari proses sensori, yang keduanya dikontrol oleh sistem saraf. Normalnya sistem saraf dapat menerima ratusan stimulus. Diawali oleh stimulus yang memacu receptor sensori, stimulus kemudian akan diteruskan oleh neuron sensori I  kepada sistem saraf pusat. Dari spinal cord atau batang otak, impuls kemudian diteruskan oleh neuron sensori II kepada thalamus. Disini neuron sinaps dengan neuron sensori III bertemu dan menghantarkan impuls dari thalamus ke area somatosensori dari postcentral gyrus lobus parietal otak, yang juga disebut dengan area sensori primer. Segera setelah itu, jaras sensori mulai berproses dan meneruskan sensasi dari sisi yang berlawanan dari tubuh. Biasanya proses tersebut terjadi pada tingkat neuron sensori II.
Kesadaran terhadap stimulus terletak pada korteks serebri, dimana stimulus dipersepsikan dan diinterpretasikan. Untuk dapat menerima dan menginterpretasikan stimulus, otak harus terjaga. Reticular activating system (RAS) pada batang otak berperan dalam menyalurkan mekanisme desakan (arousal). Tingkat aktivitas dari RAS tergantung dari besarnya stimulus sensori yang diterima. Nyeri, dapat meningkatkan aktivitas RAS. Setelah stimulus ditangkap oleh RAS kemudian diteruskan ke korteks serebri. Peran dari korteks adalah memproses, menginterpresikan, menggunakan dan menyimpan data yang masuk dan mengorganisasikannya. Peran dari thalamus adalah pusat distribusi sinyal dan sinyal kembali dan selanjutnya diantara korteks serebri dan thalamus.
Area lainnya yang dapat menggambarkan  aktivitas penting di otak adalah reticular inhibitory area (RIA) yang berlokasi pada medulla. Area ini dapat menurunkan jumlah sinyal nervus yang sedang turun pada spinal cord ke otot dan menurunkan aktivitas yang lebih tinggi dari pusat otak. Otak mempunyai kapasitas adaptasi terhadap stimulus sensori.

C.    HAL-HAL YANG PERLU DIKAJI PADA KLIEN YANG MENGALAMI GANGGUAN KEBUTUHAN SENSORY, PERSEPSI DAN KOGNITIF
Beberapa hal yang perlu dikaji oleh perawat dalam hubungannya dengan pemenuhan kebutuhan sensory, persepsi antara lain:
1.     Catatan keperawatan yang mengkaji fungsi persepsi sensori aktual, adanya deficit dan masalah yang potensial            
2.     Status mental
Evaluasi kritis terkait proses sensori prespectual, biasanya termasuk data tingkat kesadaran, orientasi, memori.
3.      Pemeriksaan fisik:
-          Ketajaman penglihatan, dengan mengunakan kartu Snellen, atau membaca
-          Ketajaman pendengaran dengan mengobservasi percakapan yang dilakukan dengan klien, tes Weber, Rhine
-          Ketajaman terhadap bau-bauan dengan aroma yang spesifik
-          Ketajaman pengecap
-          Rangsang taktil
4.Lingkungan klien
5.      Jaringan sosial yang dimiliki

II.            DIAGNOSA KEPERAWATAN
      Beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan sensory, persepsi dan kognitif antara lain :
1.      Gangguan persepsi sensori (spesifik: visual, auditori, kinestetik, gustatori, taktil dan olfaktori)
2.      Gangguan ingatan
3.      Kerusakan memori
4.      Gangguan proses pikir
5.      Risiko jatuh

III.         PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
1.      Gangguan persepsi sensori (spesifik: visual, auditori, kinestetik, gustatori, taktil dan olfaktori)
Definisi karakteristik :
ü   Konsentrasi rendah
ü   Distorsi auditori
ü   Perubahan respon terhadap stimulus
ü   Irritabilitas
ü   Disorientasi waktu, tempat dan orang
ü   Perubahan dalam kemampuan memecahkan masalah
ü   Perubahan pola perilaku
ü   Gangguan pola komunikasi
ü   Halusinasi
ü   Distorsi visual
NOC: Klien dapat :
ü   Mempertahankan fungsi optimal indera
ü   Membangun lingkungan yang aman
ü   Berkomunikasi efektif
ü   Mencapai perawatan diri


NIC:
a.           Mempertahankan fungsi optimal indera
ü   Penglihatan:
-        Simpan kacamata dan kontak lensa bersih dan berfungsi
-        Gunakan alat bantu tambahan
-        Tulis label obat dengan huruf besar
-        Ajarkan klien denagn pamflet tulisan besar dan kontras
ü   Pendengaran:
-        Lakukan tes pendengaran
-        Irigasi telinga
-        Modifikasi lingkungan
-        Saat berkomunikasi matikan televisi atau tape
ü   Perasa
-        Lakukan oral hygiene
-        Makanan berasa dan tekstur berbeda-beda
ü   Sentuhan
-         Terapi sentuhan: menyisir rambut, back rub, menyentuh lengan   atau bahu
-        Reposisi
-        Tekanan lembut bila sensasi berkurang
-        Linen bersih
ü   Pembau
-        Stimulasi bau menyenangkan
-        Membaui makanan sebelum makan
-        Lingkungan bersih
b.          Membangun lingkungan yang aman
ü   Kehilangan penglihatan:
-        Ambulasi
-        Jangan tinggalkan klien sendiri di tempat asing
-        Sediakan bel
-        Objek penting letakkan dekat klien
-        Pasang side rail
-        Pindahkan barang berbahaya
ü   Kehilangan pendengaran:
-        Ajarkan klien menggunakan penglihatan untuk menemukan bahaya
-        Kunjungi klien secara teratur
ü   Gangguan bicara:
-        Perlu alternatif komunikasi
-        Sediakan bel panggil
c.           Berkomunikasi efektif
ü Dengarkan klien
ü Jangan berteriak
ü Gunakan pertanyaan pendek, mudah dan bahasa tubuh
ü Beri klien waktu untuk memahami
ü Jangan menekan atau memaksa
ü Gunakan alat bantu untuk memperjelas
ü Berhadapan dengan klien
d.     Mencapai perawatan diri
ü Jelaskan letak susunan makanan yang disajikan
ü Bantu klien dengan gangguan penglihatan ke kamar mandi
ü Beri kesempatan klien melakukan ADL sendiri
2.      Gangguan ingatan
Definisi karakteristik :
ü  Ketidakmampuan untuk mengingat informasi yang factual
ü  Ketidakmampuan untuk mengingat kejadian yang telah lalu
ü  Ketidakmampuan untuk mempelajari keterampilan atau informasi yang baru
ü  Melupakan kegiatan yang seharusnya dilakukan
NOC: Ingatan, dengan kriteria hasil klien mampu:
ü Mengingat kembali informasi yang sekarang dengan benar
ü Mengingat kembali informasi yang baru saja diterima dengan benar
ü Mengingat kembali informasi yang sudah lama dengan benar
NIC:
ü Ingat kembali bersama pasien pengalaman yang telah lalu
ü Sediakan waktu untuk berkonsentrasi
ü Sediakan kesempatan untuk mengingat kejadian yang baru saja terjadi
ü Monitor tingkah laku pasien

3.      Kerusakan memori
Definisi :
Ketidakmampuan untuk mengingat kembali informasi atau perilaku
Batasan karakteristik :
ü  Tidak mampu mengingat informasi factual
ü  Tidak mampu mengingat kejadian yang baru saja terjadi atau masa lampau
ü  Tidak mampu belajar atau menyimpan ketermapilan atau informasi baru
ü  Tidak mampu untuk menentukan perilaku yang sudah dilaksanakan
ü  Meleporkan atau menunjukkan pengalaman lupa
ü  Tidak mampu menampilkan keterampilan yang pernah dipelajari
ü  Lupa dalam menampilkan perilaku pada jadwal yang telah dilakukan
Faktor yang berhubungan
ü  Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
ü  Gangguan neurologis
ü  Lingkungan yang mengganggu
ü  Anemia
ü  Hipoksia kronis/akut
ü  Penurunan curah jantung
NOC : Memory
Kriteria Hasil :
ü  Dapat merecall informasi lama secara akurat
ü  Dapat merecall informasi yang baru saja terjadi secara akurat
NIC : Memory training
ü  Mengidentifikasi dengan pasien dan kelurga masalah memori
ü  Menstimulasi memori dengan mengulang pikiran pasien terakhir
ü  Implementasi tehnik memori yang sesuai
ü  Menyediakan latihan orientasi
ü  Menyediaan kesempatan berkonsetrasi
ü  Monitor perilaku pasien saat latihan
4.      Gangguan proses pikir
Definisi karakteristik :
ü  Dissonansi kognitif
ü  Deficit memori / masalah
ü  Ketidakakuratan menginterpretasikan lingkungan
ü  Egosentris
ü  Berfikir tidak berdasarkan realita
NOC: Kemampuan kognitif, dengan kriteria hasil klien mampu:
ü Berkomunikasi dengan lancar sesuai umur dan kemampuan
ü Memiliki perhatian yang penuh
ü Berkonsentrasi
ü Memiliki orientasi
ü Membuat keputusan yang tepat
NIC:
ü Beri kesempatan kepada klien untuk menyampaikan pendapatnya.
ü Beri kesempatan kepada klien untuk memusatkan perhatian
ü Jangan beri klien informasi yang berlebihan dalam satu waktu
ü Orientasikan lingkungan sekitar klien
3.      Risiko jatuh
NOC :
Klien dapat  menunjukkan perilaku yang aman untuk mencegah jatuh dengan indikator :
ü  Menggunakan alat bantu dengan benar
ü  Menempatkan penghalang untuk mencegah jatuh
ü  Menggunakan prosedur berpindah yang ama
ü  Menggunakan restrain jika diperlukan
NIC : Pencegahan jatuh
Aktivitas :
ü  Identifikasi keterbatasan fisik dan kognitif pasien yang dapat meningkatkan potensi jatuh
ü  Identifikasi karakteristik lingkungan yang meningkatkan potensi jatuh
ü  Sediakan alat bantu seperti walker
ü  Ajarkan pasien meminimalkan injuri ketika jatuh
ü  Gunakan restrain fisik untuk membatasi pergerakan yang dapat membahayakan klien
ü  Gunakan side rail pada bagian kiri dan kanan untuk mencegah jatuh dari tempat tidur
ü  Sediakan pencahayaan yang adekuat untuk meningkatkan penglihatan

IV.         DAFTAR PUSTAKA.
Ellis, Janice, Elizabeth A. Noulis. 1994. Nursing Human Need Approach 5th Edition. Philadelphia: J.B. Lippincott Company.
DeLaune S.C., Patricia K.L. 2002. Fundamental of Nursing:Standarts and Practice. USA: Delmar
Kozier & Erb’s. 2008. Fundamental of Nursing,Concept, Process, and Practice. Pearson: Prentice Hall: New Jersey.

LeMone, Priscilla, Karen M. Burke. 1996. Medical-Surgical Nursing: Critical Thinking in Client Care. Canada: Addison-Wesley Nursing.
North American Nursing Diagnosis Association. 2001. Nursing Diagnoses : Definition & Classification 2007-2008. Philadelphia.